KISAH ASMARA DI TK

Kisah ini terjadi ketika aku belum tahu apa itu cinta. Tetapi aku bisa merasakan apa itu cinta. Memang apa yang aku rasakan ini nggak wajar, kayak lagunya The Virgin. Tapi…ya mau gimana lagi? Mau dirubah? Nggak bisa coy!

Dari apa yang aku alami ini, aku malah merasa jadi orang yang paling beruntung. Setiap pagi aku berusaha masuk sekolah lebih awal bahkan awalnya itu keterlaluan cuman biar bisa ketemu doi lebih lama. Setiap aku berangkat awal, doi selalu datang lebih awal dariku. Ini membuat aku heran, mengapa dia selalu datang lebih awal dariku? Padahal aku ingin datang lebih awal darinya. Itulah mengapa banyak orang bilang aku ini nggak mau ngalah dan egois. Kemudian mau nggak mau aku harus berani untuk deketin doi. Setiap langkah diiringi dengan berdebarnya jantung. Setiap hembusan nafas diiringi rasa nggak kuat nahan pipis. Dan nggak kebayang kalau aja aku berusaha deketin dia 30 kali, mungkin pabrik sempak kehabisan stok. Dan nggak terduga,  ternyata usaha ini membuahkan hasil. Akhirnya aku bisa mendekati si doi. Tanpa basa-basi aku pun mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam kantung celanaku. Dia nampak tidak sabar melihat apa yang ingin aku keluarkan. Yang aku keluarkan adalah semua uang saku milikku. Akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan yaitu mainan Transformer plastik rakitan. Aku sangat senang sekali. Dan ternyata uang yang aku berikan itu terlalu banyak, sehingga pedagang mainan itu memberiku uang kembalian.   

PENGEN JADI IDOLA CEWEK DI DUSUN

” Bal-balan njo!”

Itulah kalimat ajakan yang selalu aku denger sewaktu TK. Entah mengapa aku serasa ditarik kayak main layangan dan aku jadi layanganya. Temen yang sering ngajak aku itu namanya Fatkun, dan Budi. Emang sengaja aku samarin. Kadang mereka juga lupa ngajak aku. Dan aku nggak tahu itu lupa atau gimana. Tapi intinya, aku ke lapangan berangkat sendirian.

Di sana, kita nggak cuma main bertiga. Ada anak kecil kayak aku, ada remaja, dan juga ada bapak-bapak. Barangkali bapak itu nganter anaknya main mungkin. Tapi seingatku bapaknya juga ikut main. Atau jangan-jangan anaknya yang nganter bapaknya. Ini merupakan sebuah misteri besar yang susah untuk dipecahkan. Tidak hanya laki-laki, para kaum hawa juga memenuhi tribun penonton (kebon). Saat pertandingan dimulai, aku hanya nonton. Karena, yang main remaja plus bapak-bapak yang tadi. Suatu ketika ada pemain yang capek ataupun dipanggil coach (emak) yang harus digantiin pemain lain. Disitulah para anak kecil kayak aku berharap agar bisa main. Entah do’a apa yang aku ucapkan, mas-mas itu nunjuk aku untuk main. Saat itu, aku serasa jadi “SuperSub” kayak Chicarito. Gue ngomong sama hatiku yang paling dalam sambil jalan perlahan menuju lapangan dengan sok cool, bahwa aku harus tampil sebaik mungkin. Karena inilah kesempatanku untuk bersinar dan jadi idola para cewek-cewek dusun. Dan tiba-tiba omonganku yang dramatis itu pecah gara-gara…

“CEPET KAMPRET!!!” teriak bapak-bapak tadi.

Dan aku pun lari ke tengah lapangan. Kemudian aku dikasih intruksi sama orang yang sering aku panggil Mas Taqim.

“San, kowe dadi bek, OK!” seru Mas Taqim penuh keyakinan

“Ehm…siap mas!” seru gue penuh ketakutan

Akhirnya aku jadi bek yang ke-14 kalinya dari 15 pertandingan. Yang satu pertandingan lagi gue jadi striker. Dan aku hampir aja kehilangan minat untuk sepakbola karena saat itu beknya besar-besar dan aku hampir aja cidera. Walaupun aku nggak pinter-pinter amat jadi bek, tapi aku nikmatin peran itu karena posisi itu yang membuat aku tahan banting. Yah, walaupun hasilnya nggak bagus-bagus ama sih. Dari pertandingan itu, timku kalah 6-2 dan 4 goalnya dicetak saat aku jadi bek. Tiba-tiba saat enak-enaknya main bekel. Eh, bola, ada gumuruh suara yang ternyata dari bokapku. Suara itu bagaikan alarm pertanda hari mulai sore. Dan akhirnya aku pun pulang dan mandi.

Yah, apapun posisinya dan apapun peranya, nikmatin aja. Insya allah bakal ada hikmahnya.

MENANG DEBAT!

Tahun 2001, tepatnya 26 Oktober akhirnya aku lahir ke dunia yang fana ini. Bersama dua manusia yang rela bersihin taiku sewaktu bayi yaitu orang tua. Aku tinggal di daerah Magelang, tepatnya Salaman, lebih tepatnya lagi Kalisalak. Tinggal di sini membuatku memperoleh sebuah hikmah, yaitu aku bisa sering-sering makan buah salak yang manisnya kayak artis Ely Sugigi. Eh bukan, maksudnya Ariel Tatum. Beda jauh kayaknya, bodo ah! Oh iya, kalian belum tahu namaku ya? Kenalin namaku Ihsan Prasetya. Ihsan artinya kebaikan, Prasetya artinya kekuatan. Jadi, Ihsan Prasetya mempunyai arti anak ganteng. Haha bercanda, ya emang ganteng sih! Ehm, fokus. Ihsan Prasetya itu artinya kekuatan kebaikan. Keren, kan? Banyak saudaraku yang ngatain aku itu anak pungut. Mulai dari om, pakdhe, budhe, kondhe, dan semacamnya. Tapi aku juga membela diri

“ Enggak kok, aku bukan anak pungut. Nih, buktinya ada foto aku, bapak, sama ibuk. Terus rambut ibuk kelihatan berantakan. Jadi, dia habis ngelahirin aku.”

Segitunya pembelaan aku waktu itu, dan akhirnya aku menang debat karena mereka pergi gitu aja. Waktu itu aku serasa jadi emak-emak yang sukses hasut abang tukang sayur buat nurunin harganya brokolinya.

Waktu kecil emang bakal jadi bahan tertawaan waktu kita agak nalar.