” Bal-balan njo!”

Itulah kalimat ajakan yang selalu aku denger sewaktu TK. Entah mengapa aku serasa ditarik kayak main layangan dan aku jadi layanganya. Temen yang sering ngajak aku itu namanya Fatkun, dan Budi. Emang sengaja aku samarin. Kadang mereka juga lupa ngajak aku. Dan aku nggak tahu itu lupa atau gimana. Tapi intinya, aku ke lapangan berangkat sendirian.

Di sana, kita nggak cuma main bertiga. Ada anak kecil kayak aku, ada remaja, dan juga ada bapak-bapak. Barangkali bapak itu nganter anaknya main mungkin. Tapi seingatku bapaknya juga ikut main. Atau jangan-jangan anaknya yang nganter bapaknya. Ini merupakan sebuah misteri besar yang susah untuk dipecahkan. Tidak hanya laki-laki, para kaum hawa juga memenuhi tribun penonton (kebon). Saat pertandingan dimulai, aku hanya nonton. Karena, yang main remaja plus bapak-bapak yang tadi. Suatu ketika ada pemain yang capek ataupun dipanggil coach (emak) yang harus digantiin pemain lain. Disitulah para anak kecil kayak aku berharap agar bisa main. Entah do’a apa yang aku ucapkan, mas-mas itu nunjuk aku untuk main. Saat itu, aku serasa jadi “SuperSub” kayak Chicarito. Gue ngomong sama hatiku yang paling dalam sambil jalan perlahan menuju lapangan dengan sok cool, bahwa aku harus tampil sebaik mungkin. Karena inilah kesempatanku untuk bersinar dan jadi idola para cewek-cewek dusun. Dan tiba-tiba omonganku yang dramatis itu pecah gara-gara…

“CEPET KAMPRET!!!” teriak bapak-bapak tadi.

Dan aku pun lari ke tengah lapangan. Kemudian aku dikasih intruksi sama orang yang sering aku panggil Mas Taqim.

“San, kowe dadi bek, OK!” seru Mas Taqim penuh keyakinan

“Ehm…siap mas!” seru gue penuh ketakutan

Akhirnya aku jadi bek yang ke-14 kalinya dari 15 pertandingan. Yang satu pertandingan lagi gue jadi striker. Dan aku hampir aja kehilangan minat untuk sepakbola karena saat itu beknya besar-besar dan aku hampir aja cidera. Walaupun aku nggak pinter-pinter amat jadi bek, tapi aku nikmatin peran itu karena posisi itu yang membuat aku tahan banting. Yah, walaupun hasilnya nggak bagus-bagus ama sih. Dari pertandingan itu, timku kalah 6-2 dan 4 goalnya dicetak saat aku jadi bek. Tiba-tiba saat enak-enaknya main bekel. Eh, bola, ada gumuruh suara yang ternyata dari bokapku. Suara itu bagaikan alarm pertanda hari mulai sore. Dan akhirnya aku pun pulang dan mandi.

Yah, apapun posisinya dan apapun peranya, nikmatin aja. Insya allah bakal ada hikmahnya.